ikhlas kunci kebahagiaan

September 14th, 2010

Nama : Gina Nur Rahmasari/F24100037

Laskar : 23

Pernahkah anda membaca buku Quantum Ikhlas? Ayah saya memiliki 2 seri bukunya, saya pun turut membacanya karena isinya sangat bagus. Salah satu bukunya berjudul The Science & Miracle of Zona Ikhlas, isinya sebagian merupakan kisah-kisah inspirasi hasil penerapan Zona Ikhlas dari buku Quantum Ikhlas. Banyak yang dapat menginspirasi saya, salah satunya tentang kisah seorang tukang burung. Kisah ini diceritakan oleh seorang yang bertemu tukang burung. Beginilah ringkasan ceritanya..

“Hari itu saya sedang berjalan-jalan ketika melihat seorang tukang burung sedang duduk di bawah pohon. Dia membawa 20 ekor burung bersama kandangnya. Dia terlihat begitu santai dan asyik dengan dunianya. Saya mendekat karena heran bagaimana seseorang dapat menghidupi dirinya dan keluarganya hanya dengan berjualan burung di zaman seperti ini. Karena tidak setiap orang menyukai dan membutuhkan burung, apakah ada yang membeli dagangannya setiap hari?

Ketika saya tanyakan hal itu padanya, dia menjawab dengan tenang bahwa sudah 15 tahun dia berjualan dan dia hidup dengan berkecukupan, anak-anaknya sekolah dan istrinya mengurus mereka di rumah. Saya heran, bagaimana dia yakin bahwa burung yang dibawanya akan selalu ada yang membeli? Bagaimana ia yakin menyandarkan hidup keliarganya hanya dengan berjualan burung? Akhirnya pedagang tersebut mengungkapkan rahasianya, rahasia yang sangat menentramkan hati.

Dengan cuek tukang burung menjawab. Pertama, kita harus yakin bahwa Tuhan pasti mengurus semua hamba-Nya. Kedua, secara naluriah dia tahu bahwa kalau hatinya tenang, entah dari mana pembeli akan datang.. Ketika saya tanyakan bagaimana metodenya agar hatinya selalu tenang. Jawabnya, duduk santai sambil mengayun-ayunkan badan di bawah pohon sambil mengingat semua kenangan bahagia dalam hidupnya dan membayangkan bahwa kemudahan hidup yang selama ini diperolehnya akan berlangsung terus ke masa depan. Hal itulah yang memanggil datangnya pembeli dari arah yang tak terduga. Walaupun dia ‘hanya’ seorang tukang burung, bagi saya dia adalah seorang master keikhlasan.”

Dari cerita di atas saya mengambil banyak sekali pelajaran. Diantaranya bahwa seseorang dengan status sosial yang tinggi belum tentu lebih baik dari seorang yang status sosialnya rendah, contohnya sang tukang burung yang begitu ikhlas menjalani profesinya sehingga kehidupannya pun dipenuhi berkah, tidak mengeluh, tidak merasa kekurangan, selalu bahagia. Bandingkan mungkin dengan pejabat tinggi yang korupsi, padahal penghasilan mereka tentu lebih tinggi dari sang tukang burung. Lalu mengapa mereka korupsi? Karena hati mereka belum menerapkan ikhlas. Mereka masih merasa kurang dengan apa yang sudah mereka miliki, masih mengeluh, kurang bersyukur kepada Tuhan.

Begitu pula dengan kita, sudahkah kita merasa ikhlas?

cerita inspirasi

September 14th, 2010

Nama : Gina Nur Rahmasari/F24100037

Laskar : 23

Inspirasi, adalah sesuatu yang dapat membuat seseorang merubah cara pikirnya atau bisa juga membuatnya menemukan hal baru. Artinya bisa berbeda tergantung interpretasi setiap orang. Inspirasi dimulai dari suatu pengalaman, inspirasi jenis ini biasanya yang dapat membuat seseorang merubah cara pikirnya atau membuatnya berubah. Sebetulnya banyak yang dapat diceritakan, namun berhubung saya pelupa, saya akan menceritakan pengalaman saya yang paling hangat.

Senin, 28 juni 2010 saya berangkat menuju kampus IPB Dramaga Bogor untuk pindah, ya pindah ke asrama. Asrama? Apa yang ada di bayangan saya ketika itu tentang asrama? Tentu saja yang tidak enak dan membuat saya tidak betah. Ketika pertama sampai di IPB saya langsung melihat kondisi asrama yang saat itu masih kosong, ya kenyataannya ternyata memang tidak jauh dari bayangan saya. Saya berpikir apakah saya akan betah disini?

Sesudah kegiatan di Grawida kami pun registrasi di asrama. Setelah mendapat kunci saya dan keluarga mengangkut barang-barang menuju kamar. Hari telah sore namun belum ada satupun teman kamar saya yang datang, akhirnya keluarga saya pulang karena hari semakin sore. Saya sediiiih sekali hingga menangis, saya sedih karena jauh dari orang tua terutama ibu saya. Saya merasa sangat stress apalagi saya sendiri di kamar, saya termasuk sulit bergaul sehingga susah mendapat teman. Akhirnya di malam hari datang nissa dari palembang, kami tinggal berdua di kamar.

Setelah beberapa hari akhirnya irene datang dan terakhir qanita, akhirnya lengkap sudah anggota kamar saya hehe. Tetapi tetap saja saya merasa tidak betah di asrama, saya memang termasuk sulit beradaptasi, dalam segala hal. Tiap minggu saya selalu pulang ke rumah, yang ada di pikiran saya selalu kapan ada waktu untuk bisa pulang sehingga saya tidak terlalu memikirkan matrikulasi. Akhirnya ketika nilai UTS diumumkan, berapa nilai saya? Hanya 60, nilai yang jelek sekali menurut saya. Saya sedih dan kecewa, padahal saya pikir saya bisa mendapat nilai minimal 70.

Orang tua saya berkata bahwa mungkin saya stress. Saya berpikir lagi, iya juga, mungkin saya terlalu manja, terlalu egois. Saya kemudian berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan asrama dan terutama belajar lebih giat. Setiap habis shalat saya berdoa, saya ingin mendapat A maka nilai minimal yang harus saya dapatkan ketika UAS adalah 90. Saya pikir itu sangat sulit, tetapi saya percaya kekuatan Allah dan terus berusaha dengan belajar lalu berdoa.

Hari UAS pun tiba, saya merasa cukup yakin dengan jawaban saya karena saya sering latihan soal jadi soalnya tidak asing lagi menurut saya. Tetapi tetap saja saya takut, saya takut kecewa lagi seperti ketika UTS dulu. Kemudian saya terus berdoa semoga Allah memberikan nilai yang terbaik untuk saya. Dapat A alhamdulillah, dapat B atau C juga saya tetapbersyukur. Saya ingin dapat A karena saya bercita-cita mendapat IPK 4 dan lulus dengan cum laude, saya ingin membuat orang tua saya bangga.

Hari pengumuman UAS pun tiba, teman sya memberitahukan bahwa saya mendapat nilai 90. Sehingga nilai akhir saya 75 alias saya dapat A. Alangkah senangnya hati saya, doa saya terkabul. Saya sangat bersyukur. Ternyata jika kita mempunyai kemauan maka berusahalah dengan keras dan sungguh-sungguh. Setelah memaksimalkan usaha jangan lupa untuk berdoa kepada Allah kemudian kita tinggal bertawakal, pasrah kepada Allah akan hasil yang akan kita dapat nanti. Kita harus benar-benar menyerahkan semuanya kepada Allah, harus percaya kepada Allah, maka niscaya hasilnya pun akan sesuai harapan dan doa kita. Amiin

IPB ‘green campus’…

July 28th, 2010

IPB Badge

IPB ‘green campus’